WHERE WE REPORT


Story Publication logo October 25, 2023

Uiasa Flows Relentlessly (bahasa Indonesia)

Country:

Author:
A picture of a spring.
English

Three small islands in East Nusa Tenggara (NTT), namely Semau, Rote and Timor, have springs that...

SECTIONS

WASHING CLOTHES: Residents wash clothes at the Uiasa Spring channel in Uiasa Village, Semau Subdistrict, Kupang Regency, East Nusa Tenggara, last week. Image by Palce Amalo. Indonesia, 2023.

An English summary of this report is below. The original report, published in bahasa Indonesia in Media Indonesia, follows.


In 1996, a rare phenomenon occurred on Semau Island, Kupang Regency, East Nusa Tenggara. Water suddenly emerged from a hill called Nubungtalu near Mata Air Uiasa, the only all-season spring on Semau Island. The volume of water continued to increase, inundating the basin around the hill, even overflowing into the road, house yard and village office located below the hill. After two months, the water stopped gushing from the earth, and the surrounding basin dried up. The water was revealed to have come out because it was pressed between two layers of impermeable rock. Uiasa Village Chief Egel Laiskodat wants to expand the water catchment area by replacing the existing lamtoro plants with banyan plants to take advantage of the banyan roots' ability to absorb water.

Semau is a small island with an area of only 143.42 square kilometers divided into 2 sub-districts and 14 villages and inhabited by around 8,000 people. The springs in this area are very important as they serve as the main water source for the islanders. To protect this water source, local residents agreed not to destroy the forest and surrounding areas. The village government and community contribute to maintaining a good forest ecosystem by stopping forest exploitation activities and enforcing strict rules to protect the spring.

Not only that, they are also working to build a dam to overcome the water crisis that often occurs in the area. By protecting their forests and natural ecosystems, Semau islanders are committed to safeguarding their most precious source of life, water.


As a nonprofit journalism organization, we depend on your support to fund more than 170 reporting projects every year on critical global and local issues. Donate any amount today to become a Pulitzer Center Champion and receive exclusive benefits!


Uiasa Mengalir Tiada Henti

Setiap musim kemarau, Nusa Tenggara Timur menghadapi krisis air bersih. Namun, kearifan lokal menjaga sumber air bersih membuat tiga daerah ini tetap bisa menjaga keberadaan air.


FENOMENA langka yang muncul pada 1996 masih membekas di benak Kepala Desa Uiasa, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggar Timur (NTT), Egel Laiskodat. Tiba-tiba muncul air di sebuah bukit bernama Nubungtalu di bagian utara Mata Air Uiasa, satu-satunya mata air di Pulau Semau yang mengalir sepanjang musim.

Volume air terus meningkat hingga menggenangi cekungan di dekatnya dan meluap ke jalan raya, halaman rumah penduduk, serta kantor desa yang berada di bawah bukit. Air berhenti menyembur dari dalam bumi setelah dua bulan, diikuti genangan di cekungan pun mengering. Belakangan terungkap air keluar karena tertekan di antara dua lapisan batuan kedap air.

Luas Nubungtalu hanya 15,7 hektare memanjang dari utara ke selatan. Kawasan ini menjadi penting karena merupakan daerah tangkapan air bagi Mata Air Uiasa. Semau adalah pulau kecil di bagian barat Pulau Timor. Luasnya hanya 143.42 kilometer persegi, terbagi atas 2 kecamatan dan 14 desa serta dihuni sekitar 8.000 orang.

Sebagai daerah tangkapan air, di sini tumbuh banyak pepohonan besar seperti beringin (Ficus benjamina), gayam (Inocarpus fagiferus), nitas (Sterculia foetida), dan pohon kapuk hutan (Ceiba pentandra). Timbun dan kokoh, menjulang di antara pohon elm cina (Ulmus parvifolia), tempat bersarangnya lebah dan populasi burung dara.

Rimbunnya pepohonan membuat Nubungtalu adem dan sejuk, kontras dengan suhu udara di luar kawasan yang pada September 2023 mencapai 32 derajat celsius.

Menengok ke bagian luar kawasan yang dulunya lahan kritis, kini sudah direhabilitasi dengan tanaman lamtoro (Leucaena leucocephala). Warga yang mayoritas petani lahan kering sekaligus peternak memanfaatkan daun lamtoro sebagai pakan sapi dan dahannya dijadikan kayu bakar.

Demi memperluas daerah tangkapan air, Egel Laiskodat ingin mengganti tanaman lamtoro yang ada dengan beringin mulai awal musim hujan 2023. Menanam beringin banyak manfaatnya terutama bagian akar mampu menyerap banyak air.

“Dengan menanam beringin menjadikan daerah tangkapan air Uiasa semakin luas sekaligus meningkatkan cadangan air tanah. Stek beringin hanya butuh satu musim hujan saja sudah tumbuh dengan bagus,” kata Egel Laiskodat.

Sebaliknya, untuk kebutuhan ternak, mereka sepakat menerapkan sistem pemeliharaan sapi ranch seluas 5 hektare yang didanai dana desa. Desa Uiasa juga menerapkan aturan ketat demi melindungi hutan desa. Warga yang merusak hutan dikenai denda membayar satu ekor babi dan kain adat kepada lembaga adat.

Bahkan, pada 2020 lembaga adat desa bersama Yayasan Pikul Kupang menetapkan kawasan itu sebagai hutan larangan (pukun lulin), yang menandai berakhirnya kegiatan eksploitasi hutan, tentu demi kelangsungan mata air. Sejak itu, warga tidak berani lagi masuk ke kawasan hutan.

Pohon tumbang yang dipicu cuaca ekstrem maupun berusia tua tidak boleh dipunggut.

Pakar pertambangan Universitas Nusa Cendana Kupang, Noni Banunaek, mengungkapkan alasan Uiasa menjadi sumber mata air penting di pulau kecil ini.

Akar pohon menyerap dan menahan air hujan sehingga lebih banyak air yang terserap ke dalam tanah, tertahan di antara lapisan akuifer dan lapisan batuan kedap air. “Lapisan batuan di Uiasa didominasi batuan kedap air (impermeable) berukuran luas dan tebalnya 60-80 meter,” ujarnya.

Susut 20 cm

Di kaki Bukit Nubangtalu terdapat Kolam Uiasa. Di situ, air jernih keluar dan memenuhi kolam kemudian dialirkan lewat saluran ke areal persawahan dan mamar untuk mengairi tanaman perkebunan milik warga.

Kolam Uiasa dikelola oleh badan usaha milik desa (BUM-Des) dengan menerapkan tarif berbeda bagi warga memanfaatkan air. Untuk mandi dikenai Rp2.000 per orang, cuci pakaian Rp5.000 per orang, mengisi air ke mobil tangki Rp25.000, dan pengisian tangki fi ber Rp15.000.

Tiap tahun, saat puncak kemarau dan bersamaan warga didera kriis air, pengusaha tangki air datang ke Kolam Uiasa untuk membeli air kemudian dijual kepada warga.

Harga air bervariasi tergantung jarak tempuh dari kolam. Untuk jarak tempuh di bawah 1 kilometer, harga air Rp150 ribu per tangki ukuran 5.000 liter. Untuk jarak tempuh mulai 2-5 kilometer, harga air lebih mahal yakni Rp250 ribu per tangki.

Entah akibat pengambilan air berlebihan, saat ini permukaan genangan air kolam mulai menyusut. Akan tetapi, bagi Egel, robohnya dua pohon besar di sisi kolam berturut-turut dalam dua tahun terakhir menjadi penyebab penyusutan air.

“Jika dilihat dari garis air di tembok kolam, genangan air turun sampai 20 sentimeter. Debit air juga turun, dulu 1 liter per detik, sekarang di bawah angka itu,” sebut Egel.

Tidak bisa dimungkiri lagi, penanaman pohon di hulu untuk memperluas daerah tangkapan air tidak akan sia-sia.


Grafik oleh Media Indonesia. 2023.

Bangun bendungan

Solusi menyediakan air pada musim kekeringan di NTT ialah membangun bendungan. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah membangun tujuh bendungan raksasa di daerah ini dalam kurun waktu 2015-2025.

Kapala Satker Bendungan 1, Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II Frengky Welkis menyebutkan bendungan menampung air hujan untuk kebutuhan pertanian dan meningkatkan tinggi muka air tanah sebagai solusi krisis air berulang pada kemarau. “Air hujan tergenang di bendungan meresap ke dalam tanah, lama-lama warga gali sumur langsung muncul air,” kata Frengki.

Dalam perjalanan, pembangunan Bendungan Kolhua yang seharusnya pada 2018 untuk menyediakan air baku bagi setengah juta warga gagal setelah mendapat penolakan. Warga tidak ingin lokasi bendungan seluas 69,76 hektare tersebut menenggelamkan lahan-lahan produkif.

Menurut Frengki, bendungan pasti menenggelamkan lahan-lahan produktif, tetapi masih menjadi solusi terbaik mengatasi krisis air sekaligus meningkatkan ekonomi warga. “Biasanya bendungan multiguna untuk irigasi, air baku, pembangkit tenaga listrik, dan pariwisata,” tambahnya.

Sebab itu, pemerintah hanya membangun enam bendungan. Tiga bendungan sudah rampung, yaitu Raknamo, Rotiklot dan Napun Gete, kemudian Temef rampung tahun ini. Adapun Manikin rampung pada 2024 dan Mbay selesai di 2025.

Satu hal yang pasti, penetapan hutan larangan dan penanaman pohon merupakan sumbangsih pemerintah desa dan masyarakat agar air tetap mengalir tiada henti. (N-1)

Menjaga Hutan Menjaga Sumber Kehidupan

PANORAMA rimbunnya pepohonan menjulang ke langit saat melintas di lereng Gunung Kabola, Desa Kopidil, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Sebagian besar wilayah Kopidil memiliki kemiringan lereng bervariasi antara 50 dan 90 derajat, memanjang sekitar 3 kilometer sampai lembah di bawahnya.

Di sisi hutan itu, petani membuka kebun untuk bercocok tanam. Sebanyak 1.088 orang bermukim di punggung gunung itu. Di situ juga ada gedung sekolah dasar yang dibangun sejak 1980 dan destinasi wisata kampung tradisional Mombang yang sudah populer.

Ditumbuhi banyak pohon, membuat air hujan yang turun di wilayah Kabola meresap dengan sempurna ke dalam tanah, kemudian keluar sebagai mata air di kaki gunung. Masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Mata Air Watede.

“Air muncul dari mana-mana, dari akarakar pohon, dari dalam tanah, dan dari pinggir tebing bergabung menjadi satu dan masuk ke sungai,” ujar Kepala Desa Kopidil Imanuel Lokowait.

Untuk memanfaatkan air Watede pada 2017, pemerintah desa bersama warga bergotong royong membangun kolam berukuran 6 x 7 meter dengan kedalaman 2,5 meter di bantaran sungai. Kolam itu menampung air yang keluar dari dalam perut bumi tersebut.

Selanjutnya, air didistribusikan melalui dua pipa dengan bantuan tiga mesin bertenaga surya dan listrik ke bak induk di punggung gunung untuk dimanfaatan warga Kopidil. Satu pipa lagi mengalirkan air ke bak penampungan yang dibangun di batas Kota Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor, yang berpenduduk 53.339 jiwa.

Untuk itu, tambah Imanuel Lokowait, di kawasan hutan sepanjang 500 meter bagian kiri dan bagian kanan, tempat munculnya mata air, tidak boleh ada aktivitas apa pun seperti membuka kebun, apalagi menebang pohon.

Pemerintah desa bersama warga sepakat tidak boleh merusak hutan dengan tujuan agar ekosistem hutan tetap terjaga dengan baik.

Hutan Omtel

Tak kurang 3 kilometer dari Gunung Kabola ke arah selatan terbentang Gunung Lawahing dan sebelahnya Gunung Alila dengan lereng yang terjal serta dipadati pepohonan besar dan rimbun.

Tercatat tujuh mata air yang berhulu di Lawahing, mulai dari Halhili yang berada di tengah lereng gunung dan mata air lainnya di kaki gunung, yaitu Abuburing, Palueng, Obo Anan, Anain Holo, Kebun Kopi, Damloli, dan Tombang. Di Gunung Alila ada dua mata air yakni Membang dan Kinahin.

Semua mata air yang berhulu di kawasan Hutan Omtel mengalir ke Kota Kalabahi dan sekitarnya tanpa terputus. Selain untuk air baku, juga dimanfaatkan untuk mengairi tanaman pertanian.

“Dari semua mata air ini, Abuburing yang terbesar. Perusahaan daerah air minum (PDAM) memasang empat pipa besar untuk mengalirkan air ke masyarakat Kalabahi,” kata warga Kalabahi, Marcianus Moto, 43.


PERKEBUNAN KENARI: Warga berjalan di tengah kebun yang ditumbuhi Pohon Kenari di Desa Kopidil,Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur pekan lalu. Foto oleh Palce Amalo. Indonesia, 2023.

Data Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Alor menyebutkan kawasan hutan di tiga gunung ini bagian dari Kelompok Hutan Omtel yang luasnya mencapai 2.840 hektare dan berstatus hutan produksi.

Secara administratif, Hutan Omtel meliputi wilayah 41 desa dan kelurahan dalam tiga kecamatan bertetangga, yaitu Kabola, Teluk Mutiara, dan Alor Barat Laut.

Pakar pertambangan Universitas Nusa Cendana Kupang, Noni Banunaek, mengungkapkan kawasan setinggi 600 meter di atas permukaan laut ini memiliki lapisan batuan impermeable yang sangat tebal dan mampu menahan air dalam jumlah besar.

Adapun topografi Alor terdiri dari gunung api tua berusia ratusan ribu tahun dan tidak aktif lagi. Saat meletus, lava yang keluar dari perut bumi kini terbentuk menjadi batuan yang sangat kompak dan keras sehingga tidak mampu ditembus air.

Kembali ke fungsi hutan, akar pohon dapat meresap air sehingga air hujan tidak langsung mengalir melalui sungai, kemudian keluar ke permukaan tanah dalam bentuk mata air. Begitu pentingnya menjaga hutan karena menjaga kelangsungan ekosistem hutan sama halnya menjaga sumber kehidupan. (PO/N-1)